top of page

Sebuah garis di dalam lukisan bukan hanyalah sebuah bentuk saja, garis menunjukkan gerakan, sebuah aliran, seperti waktu yang berlalu yang ditampakkan di depan mata kita. Di dalam lukisan abstrak, garis hadir, digambar sebagai sebuah wadah. Garis menjadi wadah untuk warna, penggambaran ruang, bahkan emosi. Garis menjadi sebuah hal sederhana yang memicu pendekatan kritis dalam merepresentasi bentuk ekspresi dan menjadi sebuah perjalanan imajinasi.

Mutiara Riswari merupakan seniman perempuan muda (b. 1996) yang menghadirkan bentuk abstrak yang ikonik dimana bahasa visual yang ia tampilkan melalui pendekatan warna dan garis. Sebagai pelukis abstrak, Mutiara menghadirkan emosi dalam bentuk garis gestural. Komposisi yang ia bentuk bersifat spontan dan ekspresif. Mutiara menggunakan garis di dalam lukisan abstraknya tidak hanya sebagai sebuah metode untuk merepresentasikan sebuah gambaran tetapi juga sebagai cara untuk membawa perspektif dan dimensi ke dalam bidang. Mutiara membentuk bidang yang tidak terdefinisi. Garis di dalam lukisan Mutiara hadir menghuni ruang, baik untuk menghadirkan harmoni atau terkadang untuk menantangnya.

Besar di lingkungan urban di kota Semarang. Mutiara sejak kecil dekat dengan suasana hiruk pikuk yang membuat dirinya terdistorsi. Suasana ini diam-diam membentuk karakter dalam perjalanan lukisannya. Situasi yang selalu bertentangan, membuat Mutiara bertanya-tanya tentang, “Apa itu harmoni?”. Baginya harmoni di dalam kehidupan tidak melulu mengenai keselarasan, keserasian atau bahkan situasi hening. Mutiara melihat bagaimana harmoni di dalam dirinya berasal dari situasi distortif, dimana dirinya secara tidak sengaja, tumbuh dalam kondisi dimana ia banyak dilatih untuk meredam hiruk pikuk lingkungan yang ia hadapi. Distorsi menjadi sebuah awalan bagi Mutiara untuk mencari harmoni dan kanvas menjadi sebuah wadah bagi Mutiara untuk meledakkan imajinasinya.

Di dalam pameran tunggal ini Mutiara membawa tanah dan unsurnya sebagai sebuah simbol. Tanah dikenal sebagai sebuah unsur dasar yang menjadi pijakan bagi alam. Tanah di dalam serial karya ini sebagai simbol kekokohan yang juga dipakai dan diolah menjadi medium di dalam pameran ini.

 

Melalui simbol tanah, Mutiara menggali mengenai situasi manusia yang berada dalam fase transisi. Transisi merupakan situasi dimana manusia menghadapi pancaroba, dimana ada banyak perubahan dan sekali lagi distorsi bagi kehidupan diri yang membawa seseorang memaknai ulang bahkan menciptakan situasi baru untuk bisa beradaptasi. Karya-karya dalam pameran tunggal kali ini dibuat selama pandemi Covid -19 dimana situasi transisi yang dihadapi selama pandemi ini menjadi penguat pemikiran Mutiara atas makna pijakan dan

kekokohan.

 

Tanah yang juga hadir melalui warna ditampilkan saling berkelok secara gestural menggambarkan perjalanan imajinasi dalam situasi reflektif. Sebuah cerita perjalanan diri menemukan inisiasi sikap dan tindakan untuk membentuk kebajikan yang kuat. Critical Voyage sebagai sebuah seri dalam pameran tunggal Mutiara merupakan sebuah komunikasi perasaan. Energi di dalam lukisan ditampakkan oleh Mutiara melalui goresan, coretan dan permainan warna. Di dalam beberapa lukisan, Mutiara menghadirkan tekstur yang menghadirkan kontras di atas permukaan. Karya-karya di dalam pameran tunggal ini membawa kita semua untuk memaknai ulang emosi sebagai sebuah bentuk yang manusiawi, membuka ruang-ruang kemanusiaan atas situasi transisi.

Karya-karya di dalam pameran ini seolah-olah mengajak kita memasuki ruang-ruang bising yang diam-diam merupakan sebuah bentuk transenden atas pembentukan ruang harmoni di dalam diri kita sendiri. Terkadang situasi-situasi kritis adalah sebuah pintu atas penerimaan diri yang lebih murni.

Mutiara bersama karya-karyanya disini menghadirkan

Critical 
Voyage

Distorsi & Harmoni dalam Perjalanan Imajinasi

Oct 18 - Nov 18 2021

Mutiara Riswarie

bottom of page