top of page
Search
  • MarketTrack Admin

Prabu Perdana Gelar Pameran Tunggal dengan Tema “In Another Land”


View From Laos - acrylic on canvas - 30x40cm 2023


Selama ini, berbagai pendekatan, gaya dan teknik seni lukis telah menjadikan lanskap sebagai sebuah genre yang berkembang melampaui representasi tradisionalnya sebagai ‘objek’ belaka. Ketika hidup semakin tidak terpisahkan dengan internet dan layar virtual, gagasan-gagasan tentang lanskap justru dapat menemukan konteks dan signifikansi baru.


Lukisan-lukisan lanskap menjadi pengingat tentang hubungan-hubungan yang mustahil terbantahkan antara manusia dengan tanah, air, udara dan alam sekitar; antara manusia sebagai makhluk hidup dengan bumi yang menopang kehidupan.


Terbaru, Artsphere Gallery dengan bangga mempersembahkan In Another Land, sebuah pameran tunggal oleh Prabu Perdana. Menampilkan serangkaian lukisan terbaru, pameran ini menegaskan posisi Prabu sebagai salah satu pelukis Indonesia yang berfokus pada pokok-soal lanskap.


Dalam lukisan-lukisannya, Prabu masih menonjolkan objek-objek yang umum tampil pada lukisan-lukisan lanskap: langit, cakrawala dan daratan. Secara sekilas, tidak ada keanehan yang mencolok pada lukisan-lukisan itu.


Prabu menggarap lukisan-lukisannya dengan pijakan teknik melukis realistik, di mana warna-warna objek ditampilkan sewajarnya. Pada beberapa lukisan, objek-objek seperti langit, hamparan rumput, pepohonan, kumpulan perdu dan bangunan juga digarap dengan rinci.


Absennya figur manusia menyiratkan kesunyian yang puitik. Pengamat mungkin baru akan memperoleh impresi lain ketika mencermati semua itu secara lebih seksama: Tidak ada identitas yang jelas tentang tempat-tempat yang Prabu gambarkan.

Tidak ada pula petunjuk definitif yang menyaran pada konteks waktu: Apakah ia tengah menghadirkan lanskap masa lalu, masa kini atau masa depan? Pun tidak ada kepastian, apakah tempat-tempat yang Prabu lukiskan benar-benar ada di dunia nyata.

Sejumlah lukisan memunculkan kesan janggal dan ganjil karena skala dan kehadiran objek-objek yang mengingkari kelaziman. Kita perlu mencermati segenap bagian pada lukisan-lukisan ini, dan menginterogasi pemahaman kita sendiri untuk sampai pada kesimpulan bahwa Prabu tengah menghadirkan gambaran lanskap-lanskap imajiner.


“Inspirasi saya datang dari dunia sehari-hari. Tapi saya tidak sedang melukiskan pemandangan alam hari ini. Saya melukis untuk memproyeksikan sesuatu yang mungkin, atau tidak mungkin terjadi di masa depan. Tapi saya tidak sedang meramalkan masa depan,” kata Prabu.

Dalam esai pengantar pameran ini, Agung Hujatnikajennong menulis, “Alih-alih menampilkan lanskap sebagai penanda ruang dan waktu yang riil, Prabu lebih tertarik untuk menyodorkan suatu narasi yang enigmatik. Meskipun demikian, sejumlah lukisan lanskapnya cenderung mengarah pada suatu narasi yang spesifik.”

Objek-objek yang umumnya dianggap mewakili gagasan-gagasan tentang kemajuan peradaban manusia–misalnya, bangunan, mesin-mesin dan kendaraan bermotor–tampil sebagai sesuatu yang usang, rusak atau terabaikan.

Di pihak lain, objek-objek alam seperti pepohonan, perairan, bebatuan dan dataran tanah justru dilukiskan menonjol, dominan atau superior: Seolah-olah alam mampu mengatasi sepak-terjang dan eksistensi manusia modern di bumi.

Secara menyeluruh, lanjut Prabu, “Gambaran-gambaran lanskap pada lukisan Prabu, pada akhirnya, menjadi antitesis dari dominasi manusia terhadap berbagai entitas alam. Narasi ini tentu saja tidak selaras dengan kenyataan, di mana alam, hingga hari ini, masih menjadi objek eksploitasi manusia yang semena-mena. Lukisan-lukisan Prabu adalah suatu kritik yang subtil pada antroposentrisme modern yang berujung pada kerusakan dan bencana alam.”


Manajer Artsphere Gallery, Maya Sujatmiko melihat sosok Prabu Perdana sebagai salah satu pelukis generasi muda Indonesia dengan masa depan yang menjanjikan.

“Setelah beberapa tahun mendalami lukisan lanskap, Prabu telah memiliki pijakan konsep yang semakin kuat dan teknik yang semakin matang. Artsphere memberikan kesempatan kepada Prabu untuk berpameran tunggal, untuk mendukung kekaryaannya di masa depan,” demikian kata Maya.


Maya Rizano, Head of Strategic Communications and Brand, UOB Indonesia mengatakan, “Kami bangga dapat mendukung Prabu Perdana, pemenang perhelatan UOB Painting of the Year 2020 di Indonesia dan tingkat Southeast Asia UOB Painting of the Year 2020 dalam pameran tunggal keduanya. Di UOB, kami terus memberikan peluang bagi perupa di tanah air untuk mempersembahkan karya artistik terbaik di panggung seni rupa melalui kreativitas tanpa batas. Kami berharap pameran ”In Another Land” dari Prabu Perdana ini dapat memberi inspirasi kepada generasi penerus berbakat di Indonesia.”


Prabu Perdana (lahir 1984, tinggal dan bekerja di Bandung) adalah pelukis yang mulai berkarir sejak akhir 2000-an. Karya-karya Prabu telah tampil dalam sejumlah pameran kelompok di dalam dan luar negeri, antara lain: Peep(s) Show, di Qgallery, Minnesota, Amerika Serikat; Mainkan di Gedung Kesenian Solo (2011); Hydro Pirate, di UPT Gallery ISI Yogyakarta; Searching For Peace, di Padi Artground, Bandung (2012); Meta Amuk, Pameran Nusantara 2013, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2013), Art-Chipelago, Pameran Nusantara 2015 Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; Biennale Jatim 6, Kompleks Balai Pemuda & Emmitan CA Gallery, Surabaya (2015); Dunia Komik, Gudang Garam Indonesia Art Award, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta; Human Rights? #EDU, Fondazione Opera Campana Dei Caduti, Revereto, Trento, Italy (2018); Pameran Nusantara – Kontraksi: Pascatradisionalisme, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2019); Manifesto 8, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2022). Pameran tunggal Prabu Overlapping Perspective berlangsung di Titik Temu Art Space, Bandung (2017). Pada 2020, Prabu memenangkan penghargaan tertinggi UOB Painting of the Year di Indonesia dan Asia Tenggara.




1 view0 comments

コメント


bottom of page