top of page
Search
  • Nawa Tunggal

Dari Seni Grafis Menuju Seni Kontemporer

Semua seniman bisa menggunakan berbagai macam teknik seni cetak grafis untuk mencapai seni rupa kontemporer.


KOMPAS/IGNATIUS NAWA TUNGGAL

Pameran Contemporary Art & Printmaking: Indonesian Artist Print Portfolio menampilkan sembilan seniman dengan karya seni rupa kontemporer yang menggunakan teknik dan metode seni cetak grafis, Selasa (28/5/2024). Pameran digelar di Galeri Artsphere, Dhamawangsa Square, Jakarta Selatan, berlangsung 25 Mei hingga 15 Juni 2024.


Seni rupa kontemporer membebaskan medium dan metodenya. Mengolah seni cetak grafis menuju penciptaan karya seni rupa kontemporer menjadi salah satu jalan yang cukup menarik.


Antara lain dari karya Devy Ferdianto (56), yang dikenal sebagai salah satu master seni cetak grafis saat ini. Ia pernah menempuh studi seni grafis di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB) periode 1987–1995. Devy pun mendirikan DEVFTO Printmaking Institute di Ubud, Bali, dan berkolaborasi dengan berbagai seniman lintas disiplin ilmu.


”Saya ingin mengatakan bahwa semua seniman sekarang sudah bisa menggunakan berbagai macam teknik seni cetak grafis. Seni cetak grafis menjadi jembatan, menjadi suatu metode untuk penciptaan karya-karya seni rupa kontemporer,” ujar Devy di Bali, Kamis (30/5/2024).


Devy menjadi salah satu peserta pameran bertajuk Contemporary Art & Printmaking: Indonesian Artists’ Print Portfolio di Galeri Artsphere, Dharmawangsa Square, Jakarta Selatan, 25 Mei hingga 15 Juni 2024. Para seniman peserta lainnya ialah Agus Suwage, FX Harsono, Handiwirman, Ida Bagus Putu Purwa, Kemalezedine, Theresia A Sitompul, Tisna Sanjaya, dan Valasara. Tiga peserta yang sebelumnya sudah mengakrabi metode seni cetak grafis ini ialah Devy, Theresia atau yang akrab disapa Tere, dan Tisna Sanjaya.

Galeri Artsphere menggandeng DEVFTO Printmaking Institute dari Ubud, Bali, yang berkolaborasi dengan Project Eleven Foundation, 16Albermarle Project Space, serta Lanö Art Project.


Devy menampilkan satu karya yang diberi judul ”I am a Legend–Another Homage to SAMO” (2023). Ia menggunakan metode seni cetak grafis screen print di atas kertas katun Fabriano Rosaspina berukuran 32 cm x 57,5 cm. Secara visual, Devy menunjukkan dua figur gambar seniman asal Amerika Serikat, Jean-Michel Basquiat (1960–1988), dalam posisi di atas dan bawah yang saling terbalik.


KOMPAS/IGNATIUS NAWA TUNGGAL

Seniman Tisna Sanjaya menampilkan karya seni cetak grafis berjudul ”Status Quo” pada pameran Contemporary Art & Printmaking: Indonesian Artist Print Portfolio, Selasa (28/5/2024). Pameran digelar di Galeri Artsphere, Dhamawangsa Square, Jakarta Selatan, berlangsung pada 25 Mei-15 Juni 2024.


Lewat karya ini, Devy menyampaikan fenomena mutakhir perkembangan teknologi informasi, seperti kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan ragam aplikasi gawai untuk menukar wajah pada sebuah foto. Ia pun memanfaatkannya untuk menciptakan karya yang sedang dipamerkan tersebut.


”Hampir setiap seniman memiliki tokoh yang diidolakan. Seperti saya mengidolakan Andy Warhol dan Basquiat, lalu menjadi karya ini,” kata Devy.


Pertama kali, ia menggunakan AI untuk memperoleh citra Basquiat sebagai seorang legenda. Wajahnya kemudian diganti wajah asli Basquiat. Devy memanfaatkan aplikasi gawai yang biasa digunakan untuk menukar wajah pada foto. Citra terakhir inilah yang kemudian dicetak dengan metode screen print atau yang juga dikenal sebagai sablon.

Devy ingin mengemukakan fenomena publik sekarang yang sering dibingungkan untuk mengerti mana yang benar dan mana yang salah dari suatu foto yang beredar di media sosial. Lewat karyanya itu, ada pesan dan konteks kekinian yang diisyaratkan harus selalu ada untuk sebuah karya seni rupa kontemporer.


Kritik sosial politik

Peserta lainnya, Tisna Sanjaya, menampilkan karya yang diberi judul ”Status Quo” (2023). Ia menggunakan metode etching aquatint di atas kertas katun Hahnemuhle berukuran 36 cm x 40 cm.


”Karya seni grafis ini masih ada hubungan dengan karya-karya sebelumnya, baik teknis maupun tema, sejak saya mulai menggunakan teknik seni grafis pada 1987 sampai sekarang. Karya-karya saya menggunakan tema kritik sosial politik,” ujar Tisna.


Tisna pun menunjukkan karya-karya seni cetak grafis lain yang tidak ditampilkan di dalam pameran tersebut. Ia menggunakan teknik etsa dengan warna hitam pekat. Ini sebagai pilihan estetik untuk memperlihatkan tema antara gelap dan terang di dalam politik.


Tidak hanya di dalam karya seni cetak grafis. Tisna menggunakan warna gelap dan terang untuk karya drawing atau gambar, juga lukisan-lukisannya. Kritik politik yang paling mutakhir terkait dengan proses suksesi kepemimpinan nasional lewat Pemilu 2024.


Tisna menunjukkan gambar dari lukisan dengan medium cat minyak di atas kanvas berukuran 200 cm x 200 cm yang diberi judul ”Etik Ndasmu” (2024). Ia menggunakan teknik warna terang dan gelap.


Lukisan yang lain ditunjukkan dengan judul ”Antri Makan Siang Gratis di Negeri Adil dan Makmur” (2024). Ia menggunakan medium cat minyak di atas kanvas berukuran 200 cm x 200 cm. Di situ Tisna menggunakan teknik warna terang dan gelap pula. Hanya ada dua warna, yaitu hitam dan putih.


KOMPAS/IGNATIUS NAWA TUNGGAL

Seni cetak grafis karya seniman FX Harsono berjudul ”Open Your Mouth No 2” ditampilkan untuk pameran Contemporary Art Printmaking: Indonesian Artist Print Portfolio, Selasa (28/5/2024). Pameran digelar di Galeri Artsphere, Dhamawangsa Square, Jakarta Selatan, berlangsung pada 25 Mei hingga 15 Juni 2024.


Peserta berikutnya, FX Harsono, menampilkan tema kritik sosial politik pula. Karyanya diberi judul ”Open Your Mouth No 2”. Ia menggunakan teknik screen print di atas kertas katun Fabriano Rosaspina berukuran 60 cm x 40 cm. Dari karya tersebut, di bagian bawah tampak figur kepala seorang laki-laki dengan kedua tangan yang berusaha membuka mulut lebar-lebar.


Di belakang laki-laki tersebut ada gambar bunga berwarna merah muda dan merah. Di belakang bunga tampak figur dengan tangan terbuka dan terikat membentangkan sayapnya.

”Ini dari karya lama sewaktu reformasi memungkinkan setiap orang membuka mulutnya dan bebas berbicara,” ujar Harsono, ketika dihubungi sedang mempersiapkan pameran di Adelaide, Australia.


Di sinilah posisi seni rupa kontemporernya. Baik Tisna Sanjaya maupun Harsono memiliki harapan agar ada suatu perbaikan dari kritik sosial politik yang dilontarkan melalui karya seni cetak grafis itu.


”Pada dasarnya, saya ingin membuat karya seni rupa kontemporer dengan memanfaatkan metode seni cetak grafis. Seni cetak grafis menjadi jembatan,” kata Harsono.


”Cermin Pandang”

Ada hal baru dari sisi medium yang digunakan salah satu peserta pada pameran karya seni cetak grafis ini. Seniman Handiwirman Saputra yang digandeng Devy Ferdianto pada mulanya ingin menampilkan karya seni cetak grafisnya dengan medium kaca cermin.


”Medium kaca ini tidak mudah untuk digunakan dalam seni cetak grafis yang konvensional. Lalu, saya mengusulkan untuk mengganti dengan kertas stiker yang bisa memantulkan gambar seperti cermin,” ujar Devy.


Karya Handiwirman kemudian diberi judul ”Cermin Pandang”. Ini sebuah metafora untuk bertindak melalui refleksi atau becermin terlebih dahulu. Handiwirman menggunakan teknik seni cetak screen print di atas kertas katun Fabriano Rosaspina berukuran 54 cm x 36 cm. Devy menyebut karya Handiwirman ini sebagai extended graphic, yakni usaha seniman yang ingin memperpanjang jalan di dalam teknik seni cetak grafis.


KOMPAS/IGNATIUS NAWA TUNGGAL

Seniman Handiwirman Saputra menggunakan medium stiker seperti cermin untuk karya seni cetak grafis yang diberi judul ”Cermin Pandang” pada pameran Contemporary Art Printmaking: Indonesian Artist Print Portfolio, Selasa (28/5/2024). Pameran digelar di Galeri Artsphere, Dhamawangsa Square, Jakarta Selatan, berlangsung 25 Mei hingga 15 Juni 2024.


Kurator pameran Asmudjo J Irianto menyebutkan, tidak ada hierarki medium di dalam karya seni rupa kontemporer. Berikut pula, ketika menggunakan teknik seni cetak grafis untuk mencapai penciptaan karya seni rupa kontemporer, maka medium juga semestinya bebas.

”Karya seni grafis menjadi sebuah portofolio seniman. Hal ini ditempuh pula para seniman dunia, seperti Picasso, Braque, atau Salvador Dali,” ujar Asmudjo.


Sebagai portofolio seniman, bisa dikatakan menjadi karya multiple original atau karya orisinal yang bisa diproduksi dalam jumlah banyak. Dengan kata lain, karya-karya seni cetak grafis dari para seniman ternama bisa menurunkan harga dari karya lukisan yang biasa dibuat. Ini disebabkan karya-karya seniman ternama yang biasa menggunakan medium lukisan itu sudah memiliki harga yang mahal dan tidak terjangkau bagi orang kebanyakan.

Peserta pameran di Artsphere kali ini sebagian besar juga cukup ternama. Penyelenggara pameran mematok harga karya mereka masing-masing berkisar Rp 10 juta hingga Rp 15 juta. Ini menunjukkan, ternyata dari karya seni cetak grafis memiliki banyak tujuan, tidak semata untuk mencapai seni rupa kontemporer.

2 views0 comments

Comentarios


bottom of page