top of page
Search
  • Nawa Tunggal

Dedaunan Hitam Anusapati

Oleh Nawa Tunggal


Hitam legam menawarkan aura suram, juga kemurkaan. Inilah yang dituangkan Anusapati (63), seniman yang lebih dikenal sebagai pematung kontemporer, yang juga dosen di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta, melalui pameran lukisan dedaunan hitam untuk mengingatkan murka alam atas hilangnya hutan yang tak berkesudahan.






Ini sebuah lukisan abstraksi dari pengalaman masa kecil tinggal di Cibubur, Jakarta, ketika masih dipenuhi rerimbunan dedaunan. Saya pernah tinggal di Munjul, Cibubur, dari 1962 sampai 1966, masih duduk di bangku SD Kelas I sampai IV,” tutur Anusapati, Selasa (26/1/2021), di Yogyakarta.

Sekilas lukisan-lukisan Anusapati seperti abstrak monokromatik hitam di atas putih. Bidang lukisan dipenuhi warna hitam berlubang putih di sana-sini secara tidak beraturan. Ketika dengan saksama menyimak lekuk-leku lubang putih itu, terdapat liukan garis hitam yang menggambarkan garis bentuk dedaunan berumpun.

Anusapati memamng melukiskan rerimbunan dedaunan yang ditatap secara vertikal dari bawah. Ia menggambarkan lubang-lubang putih itu sinar putih matahari yang menembus celah-celah dedaunan.

Dalam seni fotografi, inilah teknik backlight atau cahaya dari arah belakang.

Seperti pada lukisan yang diberi judul, Shadow Series #20, dengan media arang di atas kertas berukuran cukup panjang, 200 x 100 sentimeter, dibuat tahun 2020. Anusapati memberi dominasi warna hitam yang lebih banyak dibandingkan dengan titik-titik lubang putihnya.

Celah dedaunan yang tertembus sinar matahari lebih sedikit ketimbang dedaunan yang menutup rapat. Anusapati hendak menceritakan betapa lebatnya pepohonan pada masa itu.

Lukisan-lukisan itu ditampilkan dalam pameran tunggal di Galeri Artsphere, Dharmawangsa Square, Jakarta, 16 Desember 2020 hingga 15 Februari 2021. Alia Swastika dalam catatan kuratorialnya menyebutkan, Anusapati melalui tema lukisannya membangun ruang-ruang kontemplatif yang mengajak kita memasuki ingatan dan pengalaman tubuh atas daun, pepohonan, dan semesta.

Ini cukup kontekstual jika dikaitkan dengan persoalan ekologi di Tanah Air. Tanah longsor akibat hujan adalah petaka berulang tak terhindarkan di negeri ini. Kemudian banjir besar menjadi petaka masif yang bergilir di banyak provinsi setiap kali memasuki musim hujan.

Lukisan dedaunan hitam Anusapati seperti lantang berteriak. Kembalikan dedaunan menutup rapat segenap permukaan tanah di Planet Bumi ini.



Kayu dan keseharian


Karya-karya Anusapati berkait erat dengan riwayat hidup Anusapati, yang terlahir di Solo, Jawa Tengah, pada 29 September 1957. Kira-kira berselang tiga bulan kemudian, Anusapati diboyong orangtuanya merantau ke Jakarta. Ayahnya kemudian diterima bekerja di kantor bea dan cukai.

Genap usiam enak tahun, orangtuanya membeli rumah dan tanah di Cibubur. Mereka kemudian tinggal di sana. Anusapati teringat pada masa itu Cibubur masih seperti hutan. Tanaman karet banyak tumbuh di sana.

“Di masa kecil itu saya sering bermain ke danau yang sekarang ada di Bumi Perkemahan Cibubur. Dari rumah ke danau itu hanya 3 menit berjalan kaki,” tutur Anusapati, yang juga akrab disapa Ninus ini.

Pada 1966 orangtuanya berpindah kerja ke kota kelahirannya, Solo. Sejak itu mereka tidak pernah tinggal lagi di perdesaan seperti di Cibubur. Pengalaman masa kecil selama empat tahun di Cibubur inilah yang membentuk karakter Anusapati dalam berkarya seni patung dan melukis sampai sekarang.

Pengelola Galeri Artsphere, Maya Sudjatmiko, menyebutkan bahwa Anusapati selama ini lebih populer dengan karya-karya patung kontemporer yang menggunakan media kayu. Bentuk kayu yang dipergunakan mulai dari dahan dan ranting hingga kayu-kayu limbah dan bekas benda-benda fungsional yang terbuat dari kayu.

“Anusapati berhasil menciptakan karakter-karakter patung yang kuat melalui media kayu. Saat ini, dengan semangat yang sama menggoreskan kayu yang sudah berubah menjadi arang untuk lukisan-lukisannya,” ujar Maya.

Anusapati sempat bercerita tentang kesedihan hatinya tatkala diajak meninggalkan Cibubur ke kota Solo pada 1966. Setahu dia, sewaktu itu hanya diajak untuk berlibur ke kampung halaman. Ternyata, mereka harus menetap di Solo.

Ayahnya sejak itu berpindah tempat kerja dari kantor bea dan cukai Jakarta ke Solo. Di kemudian hari ayahnya sempat pula berpindah tugas ke Surabaya dan beberapa kota lainnya.

“Yang jelas, semenjak pindah dari Cibubur, kami tidak pernah lagi tinggal di lingkungan perdesaan atau kawasan yang masih dipenuhi pepohonan, seperti di Cibubur,” tutur Anusapati, yang menyimpan erat-erat memori masa kecilnya di Cibubur.

Anusapati menuntaskan pendidikan seni patung di Sekolah Tinggi Seni Rupa (STSR) ASRI, yang kemudian berubah menjadi ISI Yogyakarta pada 1984. Selanjutnya, ia menjadi dosen di almamaternya hingga beberapa tahun berikutnya mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi seni patung di School of Art and Design, PRATT Institute di Brooklyn, New York, Amerika Serikat, 1988-1990.

“Karya patung yang pernah saya buat di Brooklyn terbuat dari logam untuk membentuk karakter bubu perangkap ikan. Bahan patungnya dari logam karena di Brooklyn mudah saya jumpai besi-besi rongsokan,” ujar Anusapati.

Setiba di Tanah Air, materi patung yang lebih mudah dijumpai adalah kayu. Apalagi batin Anusapati selalu tergoda untuk menciptakan karya patung secara kontemporer berupa instalasi seni bertalian dengan masalah ekologi dan lingkungan.

“Sekarang melalui karya lukisan di atas kertas dengan arang kayu, saya kembali ke dalam diri. Konteks karya bisa ditarik ke persoalan-persoalan aktual,” kata Anusapati.


Menabrak gagasan


Alia Swastika dalam catatan kuratorialnya menyebutkan Anusapati sebagai figure penting dalam perkembangan seni patung kontemporer di Indonesia. Ia menciptakan kebaruan dari hasil pertemuannya dengan gagasan seni Barat di New York serta akar dan ingatan yang kompleks tradisi dan masa lalunya.

“Karya-karya patung kontemporernya ada kelekatan terhadap memori kolektif atas benda-benda yang dipahatnya, seperti lesung, antan (alu), kentongan, bubu, alat-alat pertanian, dan alat-alat tradisional lainnya. Patung-patungnya menawarkan cara pandang yang lain dalam memaknai bentuk,” ujar Alia.

Anusapati merujuk pada kompleksitas makna yang menabrak gagasan ruang dan waktu. Bentuk-bentuk karya patung yang awalnya kita asosiasikan dengan latar perdesaan atau kampung akhirnya muncul dalam semangat dunia yang kontemporer.

Ada keberanian yang mendekonstruksi bentuk dalam konteks ruang dan waktu. Inilah yang membuat karya Anusapati berbeda dari tradisi patung modern Indonesia yang berkembang hingga tahun 1990-an.

Pada masa tumbuh kembangnya gagasan patung kontemporer, Anusapati masih dilingkupi karya patung secara umum dengan bentuk-bentuk figuratif dan naratif. Pilihan Anusapati menunjukkan posisi konfrontatif dengan tradisi patung modern sebelumnya.

Anusapati muncul dalam bentuk pergaulan semacam ini. Persilangan yang asing dan yang dekat, yang global dan yang lokal, yang kini dan yang lalu. Anusapati menemukan jejak ideologis dan visi estetisnya sendiri.

Kini, Anusapati hadir melalui karya dua dimensi dengan tetap menghadirkan elemen yang sama, yaitu kayu, meskipun sudah berubah menjadi arang. Ideologinya tetaplah sama, menggedor hati untuk berpaling pada kelestarian pepohonan, kelestarian hutan.


Sumber: Kompas, 31 Januari 2021



7 views0 comments

Comentarios


Los comentarios se han desactivado.
bottom of page