top of page
Search
  • Nawa Tunggal

Menajamkan Mata Jiwa

Laila Azra (53), perupa asal Jakarta yang menetap di Singapura sejak 2004, mengajak kita untuk menajamkan mata jiwa lewat lukisan-lukisan abstraknya.



KOMPAS/NAWA TUNGGAL

Suasana pameran Soca: Sorotan Cahaya karya Laila Azra, perupa asal Jakarta yang menetap di Singapura sejak 2004. Ia menampilkan lukisan abstrak, seni instalasi, dan perpaduan media. Pameran berlangsung di Galeri Artsphere, Jakarta, mulai 11 November 2023 hingga 13 Januari 2024.




Soca dalam bahasa Sunda memiliki makna sebagai mata jiwa, atau juga mata batin. Laila Azra (53), perupa asal Jakarta yang menetap di Singapura sejak 2004, mengajak kita menajamkan mata jiwa lewat lukisan-lukisan abstraknya.


Lewat sebuah karya yang diberi judul, ”Shut Your Eyes–See (Tutup Matamu–Lihatlah)”, Laila bahkan meminta kita menutup mata untuk melihat karyanya itu. Mata secara fisik belum tentu bisa melihat apa yang ingin disampaikan Laila lewat karya lukisan abstraknya. Mata batin justru bisa jauh lebih dalam untuk mengetahui dan merasakannya.


Sepotong lampu selang neon flex LED digunakan Laila untuk membentuk tulisan “see” melintang di depan bidang kanvas lukisnya. Ini karya dengan media perpaduan atau mixed media antara lampu selang dan lukisan abstraknya yang ternyata memiliki riwayat unik.

Suatu kali di tahun 2018, Laila bersama keluarga berlibur ke Belanda. Mereka menjadwalkan naik perahu menyusuri kanal-kanal di kota Amsterdam pada siang hari. Akan tetapi, tiket yang diinginkan itu habis dan hanya tersisa untuk malam harinya.

Akhirnya, mereka pun naik perahu itu pada malam harinya. Bersamaan pada waktu itu diselenggarakan Festival Lampu di Amsterdam. Laila sempat berbincang dengan kapten perahu tersebut dan memperkenalkan dirinya sebagai seniman.



”Kapten perahu itu bilang, karena saya seniman, bisa ikut serta festival lampu itu di tahun berikutnya. Saya tertarik, lalu mengajukan diri dengan konsep-konsep saya dan diterima untuk ditampilkan pada Festival Lampu Amsterdam di tahun 2019,” ujar Laila dalam suatu perbincangan Kamis (28/12/2023) di Jakarta.


Laila lahir di Jakarta dari seorang ayah berdarah Sunda dan ibu asal Aceh. Ia menempuh studi Jurusan Komunikasi di Universitas Indonesia, 1990-1994. Menggambar dan melukis menjadi hobi untuk mengisi waktu. Selepas dari kuliah, Laila bekerja untuk suatu perusahaan minuman multinasional di Jakarta dan menikah pada 1996.


Berselang beberapa tahun kemudian, 2004, Laila mengikuti suaminya yang berpindah kerja di Singapura sampai sekarang. Di situlah, Laila mulai menekuni studi seni lukis dan mengikuti berbagai pameran, antara lain mengikuti pendidikan Abstrak Barat di Nanyang Academy of Fine Arts, Singapura, pada 2009.



KOMPAS/NAWA TUNGGAL

Suasana pameran Soca: Sorotan Cahaya karya Laila Azra, perupa asal Jakarta yang menetap di Singapura sejak 2004. Ia menampilkan lukisan abstrak, seni instalasi, dan perpaduan media. Pameran berlangsung di Galeri Artsphere, Jakarta, mulai 11 November 2023 hingga 13 Januari 2024.




Peristiwa liburannya di Amsterdam menginspirasi beberapa karya mixed media dengan lampu selang neon flex LED tersebut. Laila menampilkan ke dalam pameran yang diberi tajuk, Soca–Sorotan Cahaya, di Galeri Artsphere, Jakarta, 11 November 2023 sampai 13 Januari 2024.

Kurator Ignatia Nilu menyebutkan, lewat pameran itu Laila Azra menghubungkan dua praktik berkesenian antara seni dengan medium konvensional melukis dan seni media baru. Nilu menilai Laila menyadari seni yang bersumber dari dalam diri lewat pengalaman-pengalaman yang menebal.

”Semenjak satu dasawarsa yang lalu, saya melihat ia menikmati kanvas sebagai wahana bermain. Secara bebas ia mengolah kanvas dengan berbagai material,” ujar Nilu.


Found object atau benda-benda yang ditemui di sekeliling sudah digunakan Laila untuk dimasukkan ke dalam lukisan-lukisan abstraknya. Benda-benda yang dimaksudkan antara lain benang, renda, gliter, dan aksesori lainnya. Laila meleburkannya secara merdeka dan menjadi lanskap karya lukisan abstrak yang berwarna.



Kenyataan dibiaskan


Ajakan Laila untuk menajamkan soca atau mata jiwa cukup relevan ketika sekarang berbagai kenyataan sudah dibiaskan menjadi pseudo-reality atau posth-truth. Realitas dan kebenaran sudah menjadi tidak tunggal, tetapi beragam dan ada yang biaskan menjadi polemik untuk mengadu dan mengacaukan.


Ada berbagai rekayasa terhadap suatu kenyataan yang ditempuh itu mungkin saja tanpa disadari, seperti ketika ditujukan untuk membuat konten hiburan lewat media sosial. Ada pula yang menjadi suatu rekayasa dengan beragam tujuan dan kepentingan, sampai mengabaikan nilai-nilai kebaikan bersama.

“Kita tidak bisa melihat dengan jelas, kecuali dengan hati,” ujar Nilu, mengutip Antonie de Saint Exupery.


Tentu saja yang dimaksud bukan sekadar melihat benda secara fisik, melainkan peristiwa dan juga kenyataan sosial, politik, dan budaya yang rumit dan berkaitan. Untuk mengetahui hakikat kenyataan dibutuhkan mata hati, mata jiwa, atau mata batin. Pseudo-reality dan post-truth hanyalah persepsi atas kenyataan yang dibelokkan.


Orang yang melihat kadang kala tidak benar-benar melihat. Saya ingin mengajak lewat lukisan abstrak untuk mampu melihat yang sebenar-benarnya, melihat dengan mata batin

”Orang yang melihat kadang kala tidak benar-benar melihat. Saya ingin mengajak lewat lukisan abstrak untuk mampu melihat yang sebenar-benarnya, melihat dengan mata batin,” ujar Laila.


Ada karya Laila yang tidak jauh berbeda dengan lukisan ”Shut Your Eyes–See”. Karya itu diberi judul ”Exist in a Stare–Lies/Truth”. Laila melintangkan tulisan ”lies/truth” dengan lampu selang di depan bidang kanvas lukisannya. Bidang lukisan yang digunakan Laila ternyata juga dibalik, bukan pada permukaan yang sudah diberi lapisan cat dasar atau geso.


Suasana pameran Soca: Sorotan Cahaya karya Laila Azra, perupa asal Jakarta yang menetap di Singapura sejak 2004. Ia menampilkan lukisan abstrak, seni instalasi, dan perpaduan media. Pameran berlangsung di Galeri Artsphere, Jakarta, mulai 11 November 2023 hingga 13 Januari 2024.



Dari karya itu Laila ingin berbicara tentang tatapan ke mata seseorang. Di situlah akan tersimpan suatu kebohongan atau kebenaran. Lewat mata seseorang, hati kita bisa mengukur kadar kebenaran tentang apa yang sedang diomongkan.



Kemudian lewat karya yang masih serupa. Laila melintangkan lampu selang membentuk tulisan ”I See Myself” untuk karya yang diberi judul, ”In Your Eyes–I See Myself”. Kadang kala untuk menemui kenyataan diri sendiri haruslah lewat mata orang lain. Ketika kita berharap kejujuran dari diri sendiri untuk menilai kenyataan diri, bukanlah hal yang mudah. Lewat mata seseorang, kejujuran tentang diri kita sendiri mungkin akan lebih mudah didapat.

Laila menyajikan 12 karya lukisan abstrak. Ada satu instalasi yang diberi judul, ”Sorotan Cahaya–Mata Batinku Melihat”. Laila menyusun instalasi seni dengan potongan-potongan berbentuk pola atau desain baju dengan corak lukisan abstraknya.


“Karya ini terinspirasi di masa pandemi Covid 19. Pada waktu itu, kami berenam orang seniman di Singapura menyewa sebuah studio untuk tempat berkarya bersama. Karena pandemi, studio hanya diperbolehkan diisi untuk dua orang,” ujar Laila.

Beberapa kali Laila datang ke studio tersebut. Akan tetapi, di situ sudah ada dua orang. Itu berarti Laila tidak bisa berkarya melukis di studio dan pulang.


Laila mendapatkan kesempatan berkarya membuat desain baju di rumah. Bahkan, tidak berhenti di situ. Laila mewujudkan desain-desainnya itu menjadi baju. Aktivitas ini terus berkembang. Laila memproduksi dan menjual baju-baju dengan desainnya sendiri. Kain yang digunakan dengan cetakan lukisan abstraknya.


“Usaha baju dengan gambar cetakan lukisan abstrak saya itu terus berkembang sampai hari ini,” tutur Laila.

Ignatia Nilu menyebutkan, seni menjadi bagian dari katarsis Laila. Laila memiliki peran utama sebaga ibu rumah tangga dan tidak henti mengepakkan sayanya di medan sosialnya lewat cara berkesenian.


“Laila menjadi seniman Indonesia yang hidup berdiaspora dan terus berusaha mencari akar budaya Indonesia,” kata nilu.


Pemilik dan pengelola Galeri Artsphere, Maya Sudjatmiko, mengatakan, Laila Azra mewakili karakter seniman Indonesia yang berada di luar negeri. Mereka menyerap perkembangan dunia seni internasional dan membagikan pengalamannya di Indonesia.

“Saya sudah mengikuti proses berkarya Laila sejak lama. Yang menarik, kita bisa mengetahui proses berkarya seorang seniman asal Indonesia yang tinggal di luar negeri,” kata Maya.


Di masa sekarang dengan membanjirnya informasi, karya Laila meraih kontekstualitasnya. Di tengah debur ombak ketidakpastian, Laila mengajak untuk melihat kenyataan dan kebenaran dengan mata batin.



Editor:

BUDI SUWARNA


6 views0 comments

コメント


bottom of page